Laman

--------------------------------- Memotret kehidupan dalam suatu rangkaian bahasa dan frasa 8.) ---------------------------------

12 September 2011

Gorengan, Enak Tapi Berbahaya

Menyantap  makanan  gorengan  seperti bakwan,  pisang goreng,  tempe, tahu  dan  lain  sebagainya  memang  nikmat.  Tapi,  di  balik  kenikmatan  itu, ternyata menyimpan resiko   yang     amat besar.    Yakni    bisa    memicu      timbulnya      penyakit kardivaskuler, diabetes dan stroke. Makanan  enak  memang  belum  tentu  sehat.  Baik  makanan  yang  tersaji  di  penjaja keliling,  warung,  cafe,  atau  sekalipun  yang  berjenis  fried  chicken  atau  fast  food. Karena,  makanan  tersebut  hanya  ditujukan  untuk  pemuas  lidah  dan  perut,  tanpa memperhatikan adakah kandungan gizi yang bermanfaat di dalamnya.

Apalagi      bila   dilihat   dengan kebiasaan makan orang Indonesia yang lebih mementingkan  rasa  kenyang  di  perut  ketimbang  sehat  tidaknya  makanan  tersebut. Sehingga, tak jarang makanan yang sudah beberapa kali dihangatkan, sisa makanan kemarin,   masih   juga   dimakan.   Padahal,   yang   namanya   makanan   yang   sudah dihangatkan, tidak lagi menyimpan vitamin di dalamnya sama sekali, walau masakan itu masih terasa enak dan sedap di lidah.

Menurut  Doktor  Rustika  dalam  Ilmu  Epidemiologi  Fakultas  Kesehatan  Masyarakat, Universitas Indonesia, kebiasaan masyarkat yang dipengaruhi oleh berubahnya gaya hidup akibat modernisasi dan urbanisasi, menyebabkan meningkatnya penyakit tidak menular yang tergolong degenaratif tapi cukup mematikan adalah penyakit kardiovaskuler atau biasa disingkat PKV. Di Indonesia, angka kesakitan dan kematian akibat PKV terus meningkat tajam. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga menunjukkan
bahwa PKV sebagai penyebab kematian telah meningkat dari urutan ke-11 (1972) ke urutan ketiga (1986) dan menjadi penyebab kematian utama 1992, 1995, dan 2001.

Penyebab  utama  PKV  adalah  adanya  manifestasi  ateroklerosis  di  pembuluh  darah koroner,  dengan  salah  satu  faktor  risiko  utamanya  adalah  dislipidemia.  Dislipidemia adalah      kelainan     metabolisme        lipid  yang     ditandai     dengan      peningkatan kadar kolesterol   total,   LDL,   dan   trigliserida   serta   penurunan   kadar   HDL   dalam   darah. Peningkatan        proporsi    dislipidemia      disebabkan       oleh    dampak       modernisasi       yang mengubah perilaku masyarakat Indonesia cenderung mengonsumsi rendah serat dan tinggi lemak.

Hal lain adalah pesatnya upaya diversifikasi produk makanan menjadikan masyarakat cenderung mengonsumsi makanan berminyak atau berlemak tinggi. Proporsi konsumsi minyak  goreng cukup tinggi, baik di perkotaan maupun pedesaan. "Masyarkat pada umumnya  menggunakan  minyak  goreng  untuk  mengolah  makanan,  baik  untuk  lauk maupun  makanan  kecil.  Makanan  itulah  yang  dikenal  sebagai  makanan  gorengan. Rasanya  yang  gurih,  renyah  dan  harga  murah,  membuat  orang menyukainya,"  kata Rustika dalam disertasinya yang lulus dengan predikat cumlaude itu.

Makanan gorengan yang digoreng dengan minyak yang mengandung asam lemak jenuh apabila dikonsumsi akan dimetabolisme, akhirnya akan meningkatkan profil lipid dalam  darah.  Data  persentase  kebiasaan  makan  pada  populasi  berumur  di  atas  35 tahun  di  Jakarta  Selatan  menunjukkan  kebiasaan  makanan  gorengan  60  persen. masakan daging yang digoreng 44,8 persen, masakan ikan yang digoreng 94,3 persen. Asam lemak jenuh dikethui berpengaruh terhadap peningkatan kada kolesterol total, terutama  kolesterol  LDL.  Asupan  asam  lemak  jenuh  tinggi  akan  menekan  aktivitas reseptor LDL sehingga menyebabkan peningkatan kadar kolesterol LDL dalam plasma. Makin tinggi asupan asam lemak jenuh, makin tinggi kolesterol serum.

Menurut Rustika, seseorang yang berisiko profil lipid dalam darah tinggi adalah mereka yang   mengonsumsi   asam   lemak   jenuh   16,71   persen   total   energi.  Ini   berarti   bila seseorang mengonsumsi energi 1.600 kkal, maksimum konsumsi asam lemak jenuh 25,8 g per hari. Pada populasi yang diteliti, dari 29,70 gram per hari asam lemak jenuh yang dikomsumsi, 5,93 gram perhari berasal dari makanan non-gorengan. Sedangkan 23,77 gram perhari, merupakan makanan gorengan.

Dari  23,77  g  per  hari  asam  lemak  jenuh  setara  dengan  tiga  potong  jenis  makanan gorengan  lauk  dan  lima  potong  makanan  selingan  atau  dua  potong  lauk  dan delapan  potong  makanan  selingan.  "Hasil  penelitian  ini  perlu  diinformasikan  kepada masyarakat   luas,   yaitu   bahwa      kebiasaan   memakan   makanan   gorengan   yang berlebihan  berbahaya  bagi  kesehatan,  terutama  penyakit  degeneratif  yang  saat  ini angka kesakitan dan kematiannya cenderung meningkat,"

R U S T I K A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar